Minggu, 04 November 2012

Dahsyatnya Lima Waktu



Dahsyatnya Lima Waktu
Oleh    : Reqza Billiyya
Aku lewati hari-hari gulitaku bagai malam berselimut kabut. Duduk merenung, menatap kerlap-kerlip cahaya bintang yang makin meredup. Desiran angin sepoi-sepoi malam pun perlahan membaluti tubuhku yang kelam. Merindukan senyuman purnama malam yang indah sinarnya menyentuh wajah bumiku. Menanti sinar lembut mentari pagi untuk menyapu rona langitku yang berawan.
            Aku arsir peta jalan hidupku dalam diagram waktu. Membangkitkan sendi-sendi tulang yang semangat hidupnya kian rapuh. Memupuk sepetak ladang hati yang tanah sanubarinya kian tandus. Menumbuhkan akar-akar jiwa pengabdian yang tunas-tunas amaliahnya tak pernah bersemi.
Atas nama masa. Sebelum garis-garis fajar tampak terlintang menyambut pagi. Seruan ayam berkokok terdengar memanggil-manggilku dalam pengabdian Sang Maha Pencipta. Kala itu, hamba bersujud, bertekuk lutut. Mengetuk limpahan pintu maaf atas samudera dosa dan kubangan khilaf. Bersimpuh luluh, menengadah kedua telapak tangan. Mengharap keridlaan dan keceriaan masa depan.
Sesaat kemudian, aku berteduh di waktu subuh. Mengharap perlindungan agar pribadiku tak terasa angkuh. Kejernihan mata air jiwa dan ragaku tidak berubah menjadi keruh. Hingga nahkoda kedamaian terlihat di sisi pantai kebahagiaan saat layarnya berlabuh. Sungguh indah waktu subuh, jika dikerjakan secara utuh. Semangat pagipun menjadi tumbuh.
Saat siang hari, tanaman padiku terlihat tumbuh subur. Jauh dari gangguan sentuhan serangga dan ancaman hama-hama kufur. Karena itu, selalu aku tabur dengan pupuk solat zuhur secara teratur. Mengharap kehidupan duniawiku semakin sejahtera dan makmur. Senantiasa pasrah dan berserah diri dengan penuh rasa syukur.
Rerumpunan bunga mawar di taman surgaku terlihat mekar dan tumbuh segar. Semerbak aroma keimanannya mulai memancar. Kala tiba waktu sore, selalu aku sirami dengan air solat asar. Aku rawat bunga keikhlasanku di taman amal dengan penuh rasa sabar. Hingga tetesan aliran rejekiku terasa menjadi lancar.
Tangga jalan hidupku aku tapak satu persatu dengan tertib. Mengisi celah-celah waktu luang dengan tadarus dan solat magrib. Hingga pakaian takwa yang tak pernah aku tanggalkan terasa kian jauh dari aib. Perlahan kenikmatan hidup dan anugerah ilahi menjadi sahabat karib. Mengharap syafaat agung di hari kelak tak sampai raib.
            Menjelang isya, senja pergi berjalan perlahan beriring-iringan dan terarak. Namun, kemilau cahaya surgaku masih gemerlap semarak. Tak pelak, aroma wewangian surgawiku di taman nirwana pun tercium semerbak. Beginilah belantara harapan kebahagiaanku yang akan aku tunai di hari kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar