Sabtu, 29 Agustus 2015

Berkah dari Langit
Setelah sampai di gapura Desa Banyu Urip, Mak Jum mulai merasakan sesuatu yang aneh. Tidak seperti biasanya. Ketika siang bolong seperti ini, biasanya orang-orang pada istirahat, berteduh di bawah gubuk tengah sawah. Bersenda gurau sambil menikmati makan siang. Kali ini sepi. Tidak terlihat satu orang pun di sawah. Rupanya Mak Jum masih trauma.
Kira-kira baru berjalan lima ratus meter dari gapura itu, tiba-tiba terdengar seperti suara orang ketawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. Seolah-olah bermaksud memanggil-manggil Mak Jum. Kejadian yang dulu itu persis di tempat ini. Dan, waktunya juga sama seperti kemarin. Mak Jum pun sejenak menghentikan langkahnya. Takut dan ingin segera lari.
Bahkan, saking gemetarnya, tali selendang, pengikat keranjang kue itu pun sampai terlepas. Hingga keranjang yang biasa digendong di belakang punggung akhirnya jatuh, terlempar di tengah sawah. Mak Jum tetap mencoba kabur dari tempat ini. Badannya terlihat lemas. Nafasnya pun terengah-engah. Kakinya kesakitan dan berdarah. Kesandung bebatuan kecil. Perlahan-lahan Mak Jum bermaksud menoleh ke belakang.
 “Tolong… tolong… tolong...” teriak Mak Jum sambil lari tunggang langgang. Terbirit-birit.
***
“Mak Jum, saya mesen kue lapis, apam, donat dan lemper,” ucap Bu Endang, istrinya Pak Camat Gedang Songo saat belanja ke pasar dan mampir ke tempat Mak Jum biasa jualan.
“Nggeh, pinten, Bu Camat?[1]Tanya Mak Jum.
“Masing-masing seratus biji, Mak,” jawab Bu Camat yang sudah menjadi pelanggan tetap Mak Jum itu. Memang setiap kali ada acara apa pun, Bu Camat pasti memesan kue Mak Jum. Rupanya besok lusa, di Pendopo Kecamatan Gedang Songo ada rapat pertemuan seluruh kepala desa.
Siapa yang merasa tidak senang jika dagangannya tambah laris dan disukai banyak pelanggan. Hampir setiap orang pasti begitu. Mak Jum pun demikian. Seperti biasa, setelah selesai jualan dan sebelum pulang ke rumah, Mak Jum membelanjakan uangnya untuk membeli bahan-bahan kue di pasar ini. Apalagi pesanan kue Bu Camat untuk besok lusa cukup banyak jumlahnya.
“Eee… Mak Jum, kok tumben jam segini sudah pulang?” Sapa Bu Haji Faisal saat naik andong bareng sama Mak Jum.
“Al-hamdulillah, Bu Haji! Dagangan kulo sampun telas,[2] laris,jawab Mak Jum. Biasanya Mak Jum itu pulangnya sekitar jam 2 siang, tapi kali ini baru jam 12 sudah pulang.
Memang di Kecamatan Gedang Songo ini belum ada ojek sepeda motor. Apalagi mikrolet, mobil angkutan pedesaan. Mereka masih memakai kendaraan tradisional, dokar dan becak. Sepertinya naik dokar dan becak itu terasa bisa menikmati indahnya perjalanan dan ongkosnya pun juga murah. Hanya seribu rupiah. Setiap kali pulang dan pergi ke pasar, Mak Jum dan pedagang-pedagang lainnya menjadi pelanggan tetap kendaraan bebas polusi itu.
Beberapa saat kemudian, hampir sampai di depan gapura Desa Banyu Urip, “Pak Kusir, ini ongkosnya Mak Jum,” tukas Bu Haji Faisal sambil menyodorkan uang ke sopir dokar itu.
“Matur suwun, Bu Haji.timpal Mak Jum. Kali ini rezeki Mak Jum makin bertambah. Uang yang harusnya buat ongkos naik andong, kini masih utuh. Bahkan, Bu Haji Faisal tadi juga memberikan kaos oblong untuk Sudin, anak Mak Jum.
                Bu Haji Faisal, saudagar kaya yang pernah memesan kue Mak Jum saat mengkhitankan anaknya itu memang terkenal baik hati. Konon ceritanya, Bu Haji Faisal dulu juga pedagang kecil di Pasar Gedang Songo ini. Sekarang usahanya sudah berkembang pesat, sampai akhirnya dia bisa mendirikan toko, pusat belanja busana terlengkap di Surabaya. Setiap orang pasti ingin punya nasib seperti Bu Haji itu. Termasuk Mak Jum. Ia hanya bisa membayangkan, seandainya dirinya itu punya modal untuk mengembangkan usahanya pasti sudah bisa memiliki kios sendiri. Seperti Bu Haji. Lebih-lebih bisa membuka cabang di mana-mana. Namun sampai sekarang usahanya itu belum bisa berkembang baik. Masih terlihat biasa-biasa saja. Rupanya Mak Jum itu orangnya sabar dan pasrah menerima apa adanya.
***
Nama lengkapnya Juminten. Lebih akrabnya dipanggil Mak Jum. Banyak orang yang masih penasaran dengan dagangan Mak Jum. Kue buatannya yang biasa dijual di Pasar Gedang Songo itu memang benar-benar mantap. Rasanya pun juga beda dengan kue yang bukan bikinan Mak Jum. Hampir setiap orang yang pernah mencicipi jajanan itu pasti mengatakan enak dan rasanya khas. Sepertinya tidak ada satu pun yang tahu resep khusus kue Mak Jum ini. Bahkan, Mbok Suminah, tetangga dekat Mak Jum yang jualan sayur di pasar itu pun juga enggak ngerti resepnya.
                Padahal menurut Mak Jum sendiri, kuenya itu tidak menggunakan resep khusus. Resepnya sama dengan kue-kue lainnya. Anehnya, kebanyakan orang bilang kue spesial. “Mungkin itu hanya penilaian mereka belaka,” pikir Mak Jum. Mak Jum memang terkenal tukang kue, meski setiap hari hanya jualan di Pasar Gedang Songo. Tidak pernah pindah ke mana-mana, tapi larisnya luar biasa.
Bulan kemarin, saat Bu Haji Faisal punya hajat mengkhitankan anaknya, ia juga memesan kue dari Mak Jum. Apalagi Bu Lurah malah lebih sering memborong kue dalam jumlah yang besar. Seminggu yang lalu, Bu Sri, Ketua PKK Karang Nongko juga memesan jajanan pasar Mak Jum untuk acara rutinan, arisan ibu-ibu. Bahkan, rencananya bulan depan, Pak Dirman, mantan Kepala Desa Banyu Urip akan menyewa tenaga Mak Jum untuk membikin kue dan masak makanan selama lima hari dalam acara pernikahan putri bungsunya.
“Kalian tahu enggak, kenapa dagangannya Juminten itu sekarang tambah laris?” Tanya Mak Kom, memancing omongan para pelanggannya di warung makan ini.
Emang-nya kenapa, Mak?” sahut Lik Sarmun penasaran.
“Kemarin si janda kere itu kan sehabis keluyuran dari Gunung Bromo,” jawab Mak Kom sembari melayani pembelinya.
“Gunung Bromo!” seru Kang Pardi. Rupanya Kang Pardi enggak mau tahu penyebabnya. Cuek.
“Ya, memang di Gunung Bromo itu, dia kan mencari pesugihan. La wong Juminten itu hutangnya banyak banget kok. Waktu suaminya sedang sakit sampai akhirnya mati itu kan meninggalkan hutang lima juta.
“Tapi, Mak…..!” timpal Lik Sarmun agak tidak mempercayainya. “Tapi opo? Saya sudah tahu semuanya.”
“Kayaknya ada benarnya juga lo, Mak.” Sepertinya, Lik Sarmun ingin menambahi cerita tentang gosip Mak Jum yang tengah menghangat. “Diam-diam, Bos Bambang, juragan tebu di Gedang Songo yang punya dua istri itu sekarang lagi naksir sama Mak Jum,” sambung Lek Sarmun.
“Ah, ya, enggak mungkin. Wong Juminten itu orangnya jelek kok. Walaupun umurnya masih muda. Kalau Bos Bambang itu kan ganteng, gagah, kaya dan istrinya juga cantik-cantik,” sangkal Mak Kom.
 “Masak iya!” pikir Mak Kom dalam benak hatinya.
“Berarti waktu di Gunung Bromo kemarin, Juminten juga mencari pengasihan,” ucap Mak Kom sambil meyakinkan pikiran orang-orang di tengah-tengah hangatnya pergunjingan itu. Hingga semua orang yang ikut mendengarkan perbincangan di warung ini mulai yakin dan mempercayainya. Termasuk Kang Pardi. Mereka manggut-manggut dan mengangguk-anggukkan kepala.
Mak Kom, penduduk kampung sebelah, pemilik warung makan kecil-kecilan itu juga sama-sama penjual kue di pasar ini. Tempatnya lebih nyaman. Berbeda dengan Mak Jum yang jualannya masih di pinggiran jalan dan menggunakan keranjang bambu yang biasa digendong di belakang punggung. Warung Mak Kom letaknya tidak jauh dari tempat yang biasa digunakan jualan oleh Mak Jum. Mak Jum sendiri bukanlah pedagang baru di pasar ini. Kira-kira sekitar sepuluh tahunan yang lalu, terhitung semenjak ia menikah.
Beda dengan berita yang dikabarkan Mak Kom, beda pula dengan cerita Mbok Suminah, tetangga Mak Jum yang jualan sayur di pasar ini.
“Saya itu kasihan banget sama Juminten, Yu,” ujar Mbok Suminah yang tengah ngobrol sama Yu Ngaisah di sela-sela waktu senggangnya. “Kasihan apa? La wong kita juga sama-sama rondo[3] dan sama-sama miskin kok.”
                “Bukan itu maksud saya.”
                “Terus?”
                “Kemarin Juminten itu sehabis didatangi segerombolan preman. Mereka itu anak buahnya Bos Bambang. Juminten itu kan punya hutang sama si Bos itu. Katanya, kalau Juminten tidak bisa melunasi hutangnya dalam jangka waktu tiga bulan ini, dia harus milih salah satu,” cerita Mbok Suminah.
                “Salah satu?” sahut Yu Ngaisah penasaran.
“Yang pertama, tanah sekaligus rumahnya akan disita, dan Juminten dimasukkan penjara.” Yu Ngaisah menyimak cerita Mbok Suminah sambil mengerutkan keningnya, turut merasa iba. “Yang ke-dua, Juminten harus mau jadi istrinya si Bos,” sambung Mbok Suminah melanjutkan ceritanya itu.
                “Wah, kalau saya pasti milih yang ke-dua. Bos Bambang itu kan orangnya ganteng dan kaya,” celoteh Yu Ngaisah.
                “Ya, belum tentu. Bos Bambang itu kan mantan preman. Bisa-bisa Juminten malah dijadikan budaknya, kayak nasibnya Mak Tun yang dulu itu,” timpal Mbok Suminah dan masih ingin meneruskan pembicaraannya.
                “Kalau menurut saya, mending Juminten itu lapor ke perangkat desa. Lagian dia kan juga akrab sama Pak Camat. Biar nanti masalahnya bisa diselesaikan dengan baik-baik,” papar Mbok Suminah.
                Kali ini Pasar Gedang Songo tampak ramai dengan gosip Mak Jum baru-baru ini. Banyak orang yang membicarakan tentang Mak Jum. Tapi para pelanggannya merasa enggan mendengarkan cerita-cerita itu. Mungkin itu dianggapnya sebagai berita bohongan. Termasuk Bu Camat sebagai pelanggan setianya.    
***
“Mak, besok pagi Sudin mau ikut lomba cerdas cermat, Mak,” ucap Sudin mengawali perbincangan dengan emaknya di tengah malam ini sambil membetulkan kayu bakar di dapur untuk memulai masak kue.
Seusai salat malam dan sebelum subuh, pekerjaan Sudin setiap harinya ikut membantu kesibukan emaknya di dapur. Mulai dari menyiapkan kayu bakar, goreng-goreng, membungkus kue yang sudah siap dijual, bersih-bersih rumah dan cuci piring. Sudin memang anak rajin dan selalu nurut dengan perintah emaknya. Mak Jum sungguh beruntung punya anak saleh seperti Sudin. Jika tidak dibantu Sudin, Mak Jum harus bekerja sendirian.
 “Cerdas cermat iku opo toh, Nak?” Tanya Mak Jum yang memang belum ngerti sama sekali tentang cerdas cermat.
“Cerdas cermat itu kayak adu kecerdasan gitu loh, Mak. Dikasih pertanyaan, terus disuruh njawab. Kalau jawabannya benar dapat nilai, kalau jawabannya salah enggak dapat nilai,” papar Sudin dengan fasihnya. Sudin memang tergolong anak cerdas dan berprestasi di sekolahannya. Ia menjadi bintang kelas selama lima tahun berturut-turut, Sudin selalu menduduki ranking pertama. Saat ini ia sedang duduk di bangku kelas 6 SD Negeri Banyu Urip.
“Oooo….. gitu toh.” Mak Jum mendengarkan penjelasan Sudin sambil manggut-manggut, mulai paham tentang apa yang dikatakan anaknya itu.
“Terus, lokasinya itu di mana, Nak?” Tanya Mak Jum. Seolah-olah Mak Jum ingin ikut menyaksikan perlombaan itu.
“Ya, di pendopo kecamatan toh, Mak. Itu kan cerdas cermat tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Gedang Songo,” jawab Sudin.
Owalaaah…..” Rupanya Mak Jum baru mulai mengerti tentang acara di pendopo hari esok itu.
“Berarti, Bu Camat pesan kue kemarin itu untuk acara cerdas cermat ini toh. Saya kira ada pertemuan rapat seluruh kepala desa kayak yang dulu itu,” ucap Mak Jum sambil membungkus lemper yang sudah siap dijual esok.
“Terus, kalau menang dapat hadiah enggak, Nak?” Emaknya yang masih benar-benar penasaran itu berharap anaknya nanti bisa meraih juara dan mendapatkan hadiah.
“Ya, pasti dapat toh, Mak. La wong yang mengadakan lomba itu kan Allianz, Perusahaan Asuransi Syariah.”
“Asuransi Syariah?” sahut Mak Jum dengan nada polosnya. Mak Jum tetap saja belum ngerti dan makin bengong dengan istilah yang baru saja ia dengar dalam sepanjang hidupnya.
“Asuransi Syariah itu usaha saling tolong menolong dan melindungi diantara para peserta melalui pembentukan kumpulan dana yang dikelola sesuai prinsip syariah untu menghadapi risiko tertentu,” terang Sudin, seolah-olah sedang menggurui emaknya itu. Mak Jum malah semakin bingung. Menggeleng-gelengkan kepala, keheran-heranan dan seakan-akan enggak mau tahu. Bersikap acuh tak acuh.
“Nah, sekarang Asuransi Syariah itu sedang mengadakan program baru, Mak. Yaitu, melindungi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Dan, emak juga bisa mendapatkan kesempatan jaminan itu,” imbuh Sudin sambil mengelus-elus pundak emaknya yang tengah mengaduk adonan kue lapis. Sudin berusaha membahagiakan emaknya dan ikut membesarkan hatinya.
“Ah, ya, enggak mungkin. La wong emak itu kan cuma pedagang kecil di pasar tradisional toh, Le.” Rupanya Mak Jum masih belum mempercayai sepenuhnya. Dan, bersikap cuek. Yang penting bagi Mak Jum anaknya meraih juara dan mendapat hadiah berupa uang. “Lumayan, bisa buat mbayar hutang Bos Bambang itu,” gumam Mak Jum dalam hati.
“Terus, kalau dapat juara hadiahnya apa, Le?” Tanya Mak Jum sambil berharap penuh.
“Sudin juga belum tahu, Mak.”
Yo wes, tak dungakne, Le. Mugo-mugo iso juara tur entuk hadiah[4],” sambung Mak Jum sambil mengusap-usap kepala Sudin, sebagi tanda rasa cinta dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
“Amin,” sahut Sudin sambil mencium tangan emaknya, minta doa restu.
***
Setiap hari, Mak Jum jualan kue di pasar. Meski kebanyakan penduduk di sini bekerja di sawah. Ya, pasar itu berjarak sekitar 25 kilometer dari rumahnya. Ia berangkat pagi-pagi usai salat subuh. Pergi sendirian, tidak ada yang menemani dan membantuinya. Sepertinya terlihat agak keberatan menggendong keranjang kue. Kali ini kue yang harus dibawa ke pasar jumlahnya banyak. Termasuk pesanan Bu Camat.
Sekitar lima kilometer, jarak perjalanan dari rumahnya ke gapura Desa Banyu Urip. Itupun tampak gelap dan harus melintasi sawah sepanjang jalan. Apalagi sawah di kampung ini masih banyak ular berbisa dan jalannya juga berlumpur. Mak Jum pun tidak punya rasa takut dan pantang menyerah. Karena tekad besarnya untuk mengais rezeki demi biaya sekolah anaknya memang luar biasa. Apalagi hutang atas biaya perawatan mendiang suaminya saat di rumah sakit itu juga belum dibayar.
                Tak terasa perjalanannya pun telah mencapai 3 kilometer.
Tiba-tiba, “Debug…” Kang Bagiyo yang tengah mengairi sawahnya di pagi buta ini spontan tersentak. Kaget, mendengar sesuatu yang mengejutkan. Aneh, seperti bunyi kelapa yang jatuh dari pohonnya. Padahal di antara pematang sawah itu tidak ada pohon kelapa sama sekali. Ia langsung menghampiri sumber suara tadi.
“Mak jum… Mak… Mak…” teriak Kang Bagiyo. Ia bingung harus berbuat apa. Tidak ada satu orang pun di tengah sawah itu. Hanya Kang Bagiyo. Namun Kang Bagiyo tetap berusaha menolongnya.
Masya Allah.
Ono opo, Kang?” Tanya Pak Mardi keharan-heranan. Untung ada Pak Mardi yang baru lewat. Tapi Pak Mardi masih belum tahu kejadian itu.
“Astaghfirullah.” Ternyata Mak Jum. Mak Jum jatuh. Terpeleset di tengah jalan. Pingsan.
                Kue dagangannya yang biasa dimasukkan ke dalam keranjang bambu itu menjadi berserakan semua. Nyaris tidak ada satu pun yang tidak bercampur lumpur sawah, padahal itu termasuk kue pesanan Bu Camat. Hari ini mau diambil. Dan, pembayarannya pun juga sudah lunas. Sementara Bu Camat itu pelanggan tetap Mak Jum. Bagaimana nanti kalau ia marah-marah, padahal dipakai acara lomba cerdas cermat tingkat SD se-Kecamatan Gedang Songo.
***
                Sementara itu, di Pendopo Kecamatan Gedang Songo tampak ramai sekali. Lomba cerdas cermat tingkat SD sudah dimulai sekitar satu jam sedari tadi. Dan, sekarang hampir selesai. Sebentar lagi Pak Camat pun akan mengumumkan pemenang lomba cerdas cermat ini.
“Kami akan mengumumkan pemenang lomba cerdas cermat tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Gedang Songo.” Suara Pak Camat terdengar lantang menggema di ruangan balai pendopo ini. Semua orang yang turut hadir di acara ini, hatinya mulai deg-degan. Penasaran siapa yang akan menjadi juara, memenangkan perlombaan itu. Termasuk Kepala Sekolah dan seluruh guru-guru SD se-Kecamatan Gedang Songo yang turut menyaksikan dan menyemangati siswa-siswanya di perhelatan ini.
                “Sesuai dengan keputusan dewan juri, juara tiga diraih oleh SD Negeri Karang Nongko.” Begitu Pak Camat mengumumkan pemenangnya, langsung di sambut riuh tepuk tangan hadirin. Termasuk Bu Endang, istrinya Pak Camat yang duduk di tengah-tengah antara Bu Lurah Karang Nongko dan Bu Lurah Banyu Urip.
                “Juara dua diraih oleh SD Negeri Pring Sewu.” Tepuk tangan kali ini lebih meriah lagi dibanding tepuk tangan yang pertama. Termasuk Kang Pardi. Karena anaknya itu menjadi salah satu peserta lomba yang mewakili SD Negeri Pring Sewu ini. Sementara Bu Camat tampak tersenyum bangga melihat prestasi bocah-bocah itu.
                Kemudian.
“Juara satu diraih oleh.” Pak Camat diam sejenak. Tampaknya seluruh hadirin sudah tidak sabar menunggu pengumuman juara satu ini. Mereka saling memandangi wajah antara satu dengan yang lainnya. Penasaran dan ingin bertanya-tanya. Sudin dan teman-temannya pun demikian. Pasalnya juara satu akan mendapatkan uang beasiswa sebesar 5 juta dari Allianz, Perusahaan Asuransi Syariah.
                “SD Negeri.” Rupanya Pak Camat masih ingin membuat rasa penasaran sambil memandangi wajah-wajah peserta lomba dan seluruh orang yang ikut memadati ruangan pendopo ini. Pak Camat tersenyum kecil, membacanya pun perlahan-lahan seperti mengeja.
                “Banyu Urip. Dengan juru bicara Syamsudin.”
Spontan saja Sudin serta teman-teman sekelompoknya langsung saling berpelukan. Termasuk Bu Camat dan Bu Lurah Banyu Urip. Gemuruh sorak sorai tepuk tangan menggelegar, seakan memecahkan ruangan pendopo ini.
                “Bu, Syamsudin itu anaknya Mak Jum yang penjual kue di Pasar Gedang Songo lo!” bisik Bu Lurah kepada Bu Camat. Begitu mendengar nama Mak Jum disebut, spontan Bu Camat langsung teringat dengan kue yang dipesan kemarin lusa itu. Bu Camat sepertinya tidak memperhatikan Syamsudin. Hanya teringat kue.
                “Astaghfirullah, Kemarin itu saya kan pesen kue ke Mak Jum, tapi sampai sekarang kok belum diantar, ya! Apa kira-kira orangnya itu lupa, padahal acaranya ini kan sudah selesai. Waduh, gimana ini.” Bu Camat semakin panik.
***
Sebentar lagi waktu subuh pun hampir tiba. Mak Jum dan Sudin mulai siap-siap berangkat jamaah. Jarak surau dengan rumahnya tak jauh amat. Hanya 15 meter. Letaknya samping kanan rumah Mbah Kurdi persis. Beliaulah yang menjadi kiai dan sesepuh masyarakat di kampung ini. Di tengah-tengah antara rumah Mbah Kurdi dan rumah Mak Jum terdapat pekarangan cabe rawit milik Mbah Kurdi. Kira-kira seluas lima meter.
Pagi itu suara azan terdengar sayup-sayup dari bilik pengimaman langgar kecil ini. Ya, itu suara Sudin kala mengumandangkan seruan sembahyang. Sebelum iqomah dan usai azan subuh, para jamaah pun tampak meluangkan waktunya untuk salat sunah rawatib. Sudin pun demikian. Cukup dua rakaat. Kata Mbah Kurdi, keutamaan salat sunah sebelum subuh itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.. Begitu petuah Mbah Kurdi sembari mengutip hadis Nabi saat memberikan ceramah di musala itu.
Di gubuk reyot berdinding bambu ini, Sudin dilahirkan. Ia tinggal satu atap bersama emaknya yang masih berumur separuh baya. Rumah Sudin memang terlihat seperti gubuk. Terletak di pinggiran sungai dan di antara bentangan sawah. Di halaman depan rumahnya, tampak pepohonan rindang yang sudah termakan usia. Sebuah bangunan kecil yang berada di tepi kampung. Ya, kampung yang amat terpencil. Terasa kian jauh dari gaya hidup ala modernis. Bahkan, listrik pun belum pernah mengenal akrab.
Sebelum fajar menyongsong pagi, Mak Jum dan Sudin sudah terbangun dari tidurnya. Meski ia tidak tahu pukul berapa sekarang. Karena tidak ada jam dinding di rumah itu. Apalagi jam digital dan arloji. Hanya suara ayam berkokok di belakang rumah yang selalu setia membangunkannya. Seolah-olah ingin mengingatkan Mak Jum dan Sudin, bahwa saat ini adalah tiba waktu tahajud.
Mak Jum lekas menuju ke kamar mandi, mengambil air wudu untuk salat malam. Semenjak masa remaja, Mak Jum memang sudah akrab dengan rutinitas seperti ini. Sudin pun juga dilatih demikian sejak dini. Sebagai wanita salihah, Mak Jum mesti rajin beribadah dan berpegang teguh pada syariah. Mukena yang terlihat menggantung di balik pintu kamar, lantas diambil dan dikenakannya.
Subhanallah.
Perlengkapan salat Mak Jum yang dulu sebagai mahar di hari pernikahannya itu, kini masih tampak utuh dan terawat baik. Meski warna putihnya sudah berubah menjadi agak kelabu. Tampaknya rasa cinta dan kasih sayang seorang istri pada sang suami kian tertimbun dalam-dalam di sanubarinya. Meski sudah tiada, selalu ia kenang sepanjang hidupnya.
Ya Allah, Yang Maha Pemurah. Hamba bersujud dan bertekuk lutut di hadapan-Mu. Hamba memohon, bukakanlah pintu magfirah-Mu untuk menghapus segala khilaf dan dosa yang pernah hamba perbuat. Kuatkan iman dan rasa takwaku kepada-Mu, Ya Rabi. Mudahkanlah semua urusan duniawiku. Karuniailah hamba kehalalan rezeki-Mu yang melimpah ruah.
Saat itu, lantang suara katak dan jangkrik yang sahut menyahut di antara pematang sawah turut mengamini doa Mak Jum yang menyenandung isak tangis. Malam ini terasa syahdu. Gelapnya kamar Mak Jum menjadikannya lebih asyik masyuk dalam mendekatkan diri pada Sang Khalik. Meski hanya tersinari oleh cahaya lilin kecil yang menyala remang-remang di sudut kamar, namun hati Mak Jum yang selalu berbinar dan bersinar terang sudah cukup menggantikan gulitanya malam.
Ya Allah, ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orangtua kami. Anugerahilah kami anak cucu yang saleh, berilmu dan selalu berbakti terhadap ke dua orangtuanya.
Sambil menengadahkan kedua telapak tangan ke atas, Mak Jum tampak khusyuk dan khidmat bermunajat. Kedua belah pipinya nyaris tak pernah kering dari tetesan air mata. Menggapai harapan besar puteranya, Sudin menjadi anak saleh.
***
“Mbok, akhir-akhir ini, Juminten, tetangga sampean itu kok enggak pernah kelihatan batang hidungnya, dia pasti keluyuran ke Gunung Bromo lagi kan?” celetuk Mak Kom kepada Mbok Suminah saat makan pagi di warungnya itu.
“Gunung Bromo piye toh?” Mbok Suminah membantah.
“Juminten itu sekarang sudah jadi orang kaya,” sambung Mbok Suminah.
“Jangan-jangan, sekarang dia sudah jadi istrinya Bos Bambang,” sahut Lik Sarmun sambil menikmati isapan cerutu dan menyeruput kopi hangatnya di pagi ini.
“Dan anaknya, si Sudin itu sekarang melanjutkan sekolah di SMP Surabaya,” timpal Kang Pardi. “Anaknya itu kan dapat beasiswa, juara lomba cerdas cermat di pendopo kecamatan kemarin itu,” lanjut Kang Pardi yang tengah duduk di samping Lik Sarmun.
“Mungkin, Mak Jum itu sekarang jadi pembantunya Bu Haji Faisal di Surabaya. Bu Haji Faisal itu kan punya toko busana di sana,” ungkap Yu Ngaisah yang sedari tadi sudah kepingin ikut rasan-rasan di warung ini. Sementara Mbok Suminah yang duduk di sebelahnya tetap saja menikmati sarapan nasi pecel dan tidak menghiraukan omongan orang-orang itu.
Kabar tentang kepergian Mak Jum menjadi misterius. Banyak orang mempertanyakan keberadaan Mak Jum yang menghilang begitu saja. Sudah berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan, hampir dua bulan ini memang tidak pernah jualan di Pasar Gedang Songo. Kabar angin yang mendesus dari mulut ke mulut makin semrawut. Selayaknya artis yang lagi naik daun. Tidak ada yang jelas dan tidak ada yang bisa dipastikan kebenarannya.
“Sudah-sudah, intinya pertapaan Juminten di Gunung Bromo itu sekarang sudah berhasil. Titik.” Rupanya Mak Kom ingin mencoba mengakhiri pergunjingan tentang Mak Jum ini, sambil memantul-mantulkan genggaman tangan kanan dan jari telunjuknya ke arah bawah. Seperti gerakan tangan orang yang lagi ketuk-ketuk palu ke atas meja.
Tiba-tiba.
“Pak, Bu! Mak Jum itu sekarang sedang membuka toko kue di Surabaya,” tegas Bu Camat kepada orang-orang yang ada di warung ini sambil berdiri di tengah-tengah pintu. Spontan mereka terkejut, pada ndlongop ketika melihat Bu Camat masuk warung dengan tiba-tiba. Apalagi langsung ikut nimbrung tentang Mak Jum. Ternyata Bu Camat sudah sedari tadi ikut nguping perbincangan mereka dari luar warung.
“Silahkan, Bu Camat! Pinarak, badhe pesen nopo?” Mak Kom mempersilahkan duduk dan menawarkan hidangan menu-menu makanan juga minuman yang dijual di warungnya itu. Tampaknya baru kali ini Bu Camat masuk ke warungnya Mak Kom. Mak Kom yang biasanya sering menggerutu sekarang berubah menjadi sumringah, karena didatangi oleh Bu Camat.
“Mak Jum itu kan dapat bantuan dana dari Allianz, Perusahaan Asuransi Syariah,” lanjut Bu Camat setelah mengambil tempat duduk di tengah-tengah antara Mbok Suminah dan Yu Ngaisah. Sementara Mak Kom tengah mengaduk teh manis pesanan Bu Camat.
“Ooo…..” Lik Sarmun, Kang Pardi, Mak Kom, Mbok Suminah dan Yu Ngaisah serempak menganga bersama-sama tanpa ada komando. Sambil mengangguk-anggukkan kepala, mereka saling menatapi wajah antara satu dengan lainnya. Bu Camat hanya tersenyum-senyum melihat tingkah laku orang-orang itu. Rupanya mereka sudah mulai memahami keberadaan Mak Jum yang sebenarnya.
“Mak Jum ketiban berkah dari langit,” batin mereka.




[1] Ya, berapa, Bu Camat
[2] Dagangan saya sudah habis
[3] Janda.
[4] Ya sudah, saya doakan, Nak. Semoga bisa meraih juara dan dapat hadiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar