Dahsyatnya
Lima Waktu
Oleh : Reqza Billiyya
Aku
lewati hari-hari gulitaku bagai malam berselimut kabut. Duduk merenung, menatap kerlap-kerlip
cahaya bintang yang makin meredup. Desiran angin sepoi-sepoi malam pun perlahan membaluti tubuhku yang kelam.
Merindukan senyuman purnama malam yang indah sinarnya menyentuh wajah bumiku.
Menanti sinar lembut mentari pagi untuk menyapu rona
langitku yang berawan.
Aku arsir peta jalan hidupku dalam
diagram waktu. Membangkitkan sendi-sendi tulang yang semangat hidupnya kian
rapuh. Memupuk sepetak ladang hati yang tanah sanubarinya kian tandus.
Menumbuhkan akar-akar jiwa pengabdian yang tunas-tunas amaliahnya tak pernah
bersemi.
Atas
nama masa. Sebelum
garis-garis fajar tampak terlintang menyambut pagi. Seruan ayam berkokok
terdengar memanggil-manggilku dalam pengabdian Sang Maha Pencipta. Kala itu, hamba
bersujud, bertekuk lutut.
Mengetuk limpahan pintu maaf atas samudera dosa dan kubangan khilaf. Bersimpuh luluh, menengadah
kedua telapak tangan. Mengharap keridlaan dan keceriaan masa depan.
Sesaat
kemudian, aku berteduh di waktu subuh. Mengharap perlindungan agar pribadiku
tak terasa angkuh. Kejernihan
mata
air jiwa dan ragaku tidak berubah menjadi keruh. Hingga nahkoda kedamaian
terlihat di sisi pantai kebahagiaan saat layarnya berlabuh. Sungguh indah waktu
subuh, jika dikerjakan secara utuh. Semangat pagipun menjadi tumbuh.
Saat
siang hari, tanaman padiku terlihat tumbuh subur. Jauh dari gangguan sentuhan serangga dan ancaman hama-hama kufur. Karena itu, selalu aku tabur dengan pupuk solat zuhur
secara teratur. Mengharap kehidupan duniawiku semakin sejahtera dan makmur.
Senantiasa pasrah dan berserah diri dengan penuh rasa syukur.
Rerumpunan bunga mawar di taman surgaku terlihat mekar
dan tumbuh segar. Semerbak aroma keimanannya mulai memancar. Kala tiba waktu
sore, selalu aku sirami dengan air solat asar. Aku rawat bunga keikhlasanku di
taman amal dengan penuh rasa sabar. Hingga tetesan aliran rejekiku terasa menjadi
lancar.
Tangga jalan hidupku aku tapak satu persatu dengan tertib.
Mengisi celah-celah waktu luang dengan tadarus dan solat magrib. Hingga pakaian
takwa yang tak pernah aku tanggalkan terasa kian jauh dari aib. Perlahan kenikmatan
hidup dan anugerah ilahi menjadi sahabat karib. Mengharap syafaat agung di hari
kelak tak sampai raib.