Berkah
dari Langit
Setelah
sampai di gapura Desa Banyu Urip, Mak Jum mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Tidak seperti biasanya. Ketika siang bolong seperti ini, biasanya orang-orang
pada istirahat, berteduh di bawah gubuk tengah sawah. Bersenda gurau sambil
menikmati makan siang. Kali ini sepi. Tidak terlihat satu orang pun di sawah.
Rupanya Mak Jum masih trauma.
Kira-kira
baru berjalan lima ratus meter dari gapura itu, tiba-tiba terdengar seperti
suara orang ketawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. Seolah-olah bermaksud
memanggil-manggil Mak Jum. Kejadian yang dulu itu persis di tempat ini. Dan,
waktunya juga sama seperti kemarin. Mak Jum pun sejenak menghentikan
langkahnya. Takut dan ingin segera lari.
Bahkan,
saking gemetarnya, tali selendang, pengikat keranjang kue itu pun sampai
terlepas. Hingga keranjang yang biasa digendong di belakang punggung akhirnya
jatuh, terlempar di tengah sawah. Mak Jum tetap mencoba kabur dari tempat ini.
Badannya terlihat lemas. Nafasnya pun terengah-engah. Kakinya kesakitan dan
berdarah. Kesandung bebatuan kecil. Perlahan-lahan Mak Jum bermaksud menoleh ke
belakang.
“Tolong… tolong… tolong...” teriak Mak Jum
sambil lari tunggang langgang. Terbirit-birit.
***
“Mak
Jum, saya mesen kue lapis, apam, donat dan lemper,” ucap Bu Endang,
istrinya Pak Camat Gedang Songo saat belanja ke pasar dan mampir ke tempat Mak
Jum biasa jualan.
“Nggeh, pinten, Bu Camat?[1]”
Tanya Mak Jum.
“Masing-masing
seratus biji, Mak,” jawab Bu Camat yang sudah menjadi pelanggan tetap Mak Jum
itu. Memang setiap kali ada acara apa pun, Bu Camat pasti memesan kue Mak Jum.
Rupanya besok lusa, di Pendopo Kecamatan Gedang Songo ada rapat pertemuan
seluruh kepala desa.
Siapa
yang merasa tidak senang jika dagangannya tambah laris dan disukai banyak
pelanggan. Hampir setiap orang pasti begitu. Mak Jum pun demikian. Seperti
biasa, setelah selesai jualan dan sebelum pulang ke rumah, Mak Jum
membelanjakan uangnya untuk membeli bahan-bahan kue di pasar ini. Apalagi
pesanan kue Bu Camat untuk besok lusa cukup banyak jumlahnya.
“Eee…
Mak Jum, kok tumben jam segini sudah pulang?” Sapa Bu Haji Faisal saat naik
andong bareng sama Mak Jum.
“Al-hamdulillah, Bu Haji! Dagangan kulo sampun telas,[2]
laris,” jawab Mak Jum. Biasanya Mak Jum itu pulangnya sekitar jam 2
siang, tapi kali ini baru jam 12 sudah pulang.
Memang
di Kecamatan Gedang Songo ini belum ada ojek sepeda motor. Apalagi mikrolet,
mobil angkutan pedesaan. Mereka masih memakai kendaraan tradisional, dokar dan
becak. Sepertinya naik dokar dan becak itu terasa bisa menikmati indahnya
perjalanan dan ongkosnya pun juga murah. Hanya seribu rupiah. Setiap kali
pulang dan pergi ke pasar, Mak Jum dan pedagang-pedagang lainnya menjadi
pelanggan tetap kendaraan bebas polusi itu.
Beberapa
saat kemudian, hampir sampai di depan gapura Desa Banyu Urip, “Pak Kusir, ini
ongkosnya Mak Jum,” tukas Bu Haji Faisal sambil menyodorkan uang ke sopir dokar
itu.
“Matur suwun, Bu Haji.” timpal Mak Jum. Kali
ini rezeki Mak Jum makin bertambah. Uang yang harusnya buat ongkos naik andong,
kini masih utuh. Bahkan, Bu Haji Faisal tadi juga memberikan kaos oblong untuk
Sudin, anak Mak Jum.
Bu Haji Faisal, saudagar kaya
yang pernah memesan kue Mak Jum saat mengkhitankan anaknya itu memang terkenal
baik hati. Konon ceritanya, Bu Haji Faisal dulu juga pedagang kecil di Pasar
Gedang Songo ini. Sekarang usahanya sudah berkembang pesat, sampai akhirnya dia
bisa mendirikan toko, pusat belanja busana terlengkap di Surabaya. Setiap orang
pasti ingin punya nasib seperti Bu Haji itu. Termasuk Mak Jum. Ia hanya bisa
membayangkan, seandainya dirinya itu punya modal untuk mengembangkan usahanya
pasti sudah bisa memiliki kios sendiri. Seperti Bu Haji. Lebih-lebih bisa
membuka cabang di mana-mana. Namun sampai sekarang usahanya itu belum bisa
berkembang baik. Masih terlihat biasa-biasa saja. Rupanya Mak Jum itu orangnya
sabar dan pasrah menerima apa adanya.
***
Nama
lengkapnya Juminten. Lebih akrabnya dipanggil Mak Jum. Banyak orang yang masih
penasaran dengan dagangan Mak Jum. Kue buatannya yang biasa dijual di Pasar Gedang
Songo itu memang benar-benar mantap. Rasanya pun juga beda dengan kue yang
bukan bikinan Mak Jum. Hampir setiap orang yang pernah mencicipi jajanan itu
pasti mengatakan enak dan rasanya khas. Sepertinya tidak ada satu pun yang tahu
resep khusus kue Mak Jum ini. Bahkan, Mbok Suminah, tetangga dekat Mak Jum yang
jualan sayur di pasar itu pun juga enggak ngerti resepnya.
Padahal menurut Mak Jum sendiri,
kuenya itu tidak menggunakan resep khusus. Resepnya sama dengan kue-kue lainnya.
Anehnya, kebanyakan orang bilang kue spesial. “Mungkin itu hanya penilaian
mereka belaka,” pikir Mak Jum. Mak Jum memang terkenal tukang kue, meski setiap
hari hanya jualan di Pasar Gedang Songo. Tidak pernah pindah ke mana-mana, tapi
larisnya luar biasa.
Bulan
kemarin, saat Bu Haji Faisal punya hajat mengkhitankan anaknya, ia juga memesan
kue dari Mak Jum. Apalagi Bu Lurah malah lebih sering memborong kue dalam
jumlah yang besar. Seminggu yang lalu, Bu Sri, Ketua PKK Karang Nongko juga memesan
jajanan pasar Mak Jum untuk acara rutinan, arisan ibu-ibu. Bahkan, rencananya
bulan depan, Pak Dirman, mantan Kepala Desa Banyu Urip akan menyewa tenaga Mak
Jum untuk membikin kue dan masak makanan selama lima hari dalam acara
pernikahan putri bungsunya.
“Kalian
tahu enggak, kenapa dagangannya Juminten itu sekarang tambah laris?” Tanya Mak
Kom, memancing omongan para pelanggannya di warung makan ini.
“Emang-nya
kenapa, Mak?” sahut Lik Sarmun penasaran.
“Kemarin
si janda kere itu kan sehabis keluyuran dari Gunung Bromo,” jawab Mak Kom sembari
melayani pembelinya.
“Gunung
Bromo!” seru Kang Pardi. Rupanya Kang Pardi enggak mau tahu penyebabnya. Cuek.
“Ya,
memang di Gunung Bromo itu, dia kan mencari pesugihan. La wong Juminten
itu hutangnya banyak banget kok. Waktu suaminya sedang sakit sampai akhirnya
mati itu kan meninggalkan hutang lima juta.”
“Tapi,
Mak…..!” timpal Lik Sarmun agak tidak mempercayainya. “Tapi opo? Saya
sudah tahu semuanya.”
“Kayaknya
ada benarnya juga lo, Mak.” Sepertinya, Lik Sarmun ingin menambahi cerita
tentang gosip Mak Jum yang tengah menghangat. “Diam-diam, Bos Bambang, juragan
tebu di Gedang Songo yang punya dua istri itu sekarang lagi naksir sama Mak
Jum,” sambung Lek Sarmun.
“Ah,
ya, enggak mungkin. Wong Juminten itu orangnya jelek kok. Walaupun umurnya
masih muda. Kalau Bos Bambang itu kan ganteng, gagah, kaya dan istrinya juga
cantik-cantik,” sangkal Mak Kom.
“Masak iya!” pikir Mak Kom dalam benak
hatinya.
“Berarti
waktu di Gunung Bromo kemarin, Juminten juga mencari pengasihan,” ucap
Mak Kom sambil meyakinkan pikiran orang-orang di tengah-tengah hangatnya pergunjingan
itu. Hingga semua orang yang ikut mendengarkan perbincangan di warung ini mulai
yakin dan mempercayainya. Termasuk Kang Pardi. Mereka manggut-manggut dan mengangguk-anggukkan
kepala.
Mak
Kom, penduduk kampung sebelah, pemilik warung makan kecil-kecilan itu juga sama-sama
penjual kue di pasar ini. Tempatnya lebih nyaman. Berbeda dengan Mak Jum yang
jualannya masih di pinggiran jalan dan menggunakan keranjang bambu yang biasa digendong
di belakang punggung. Warung Mak Kom letaknya tidak jauh dari tempat yang biasa
digunakan jualan oleh Mak Jum. Mak Jum sendiri bukanlah pedagang baru di pasar
ini. Kira-kira sekitar sepuluh tahunan yang lalu, terhitung semenjak ia
menikah.
Beda
dengan berita yang dikabarkan Mak Kom, beda pula dengan cerita Mbok Suminah,
tetangga Mak Jum yang jualan sayur di pasar ini.
“Saya
itu kasihan banget sama Juminten, Yu,” ujar Mbok Suminah yang tengah ngobrol
sama Yu Ngaisah di sela-sela waktu senggangnya. “Kasihan apa? La wong
kita juga sama-sama rondo[3]
dan sama-sama miskin kok.”
“Bukan itu maksud saya.”
“Terus?”
“Kemarin Juminten itu sehabis
didatangi segerombolan preman. Mereka itu anak buahnya Bos Bambang. Juminten
itu kan punya hutang sama si Bos itu. Katanya, kalau Juminten tidak bisa
melunasi hutangnya dalam jangka waktu tiga bulan ini, dia harus milih
salah satu,” cerita Mbok Suminah.
“Salah satu?” sahut Yu Ngaisah
penasaran.
“Yang
pertama, tanah sekaligus rumahnya akan disita, dan Juminten dimasukkan penjara.”
Yu Ngaisah menyimak cerita Mbok Suminah sambil mengerutkan keningnya, turut
merasa iba. “Yang ke-dua, Juminten harus mau jadi istrinya si Bos,” sambung
Mbok Suminah melanjutkan ceritanya itu.
“Wah, kalau saya pasti milih
yang ke-dua. Bos Bambang itu kan orangnya ganteng dan kaya,” celoteh Yu
Ngaisah.
“Ya, belum tentu. Bos Bambang
itu kan mantan preman. Bisa-bisa Juminten malah dijadikan budaknya, kayak nasibnya
Mak Tun yang dulu itu,” timpal Mbok Suminah dan masih ingin meneruskan
pembicaraannya.
“Kalau menurut saya, mending
Juminten itu lapor ke perangkat desa. Lagian dia kan juga akrab sama Pak Camat.
Biar nanti masalahnya bisa diselesaikan dengan baik-baik,” papar Mbok Suminah.
Kali ini Pasar Gedang Songo
tampak ramai dengan gosip Mak Jum baru-baru ini. Banyak orang yang membicarakan
tentang Mak Jum. Tapi para pelanggannya merasa enggan mendengarkan
cerita-cerita itu. Mungkin itu dianggapnya sebagai berita bohongan. Termasuk Bu
Camat sebagai pelanggan setianya.
***
“Mak,
besok pagi Sudin mau ikut lomba cerdas cermat, Mak,” ucap Sudin mengawali
perbincangan dengan emaknya di tengah malam ini sambil membetulkan kayu bakar
di dapur untuk memulai masak kue.
Seusai
salat malam dan sebelum subuh, pekerjaan Sudin setiap harinya ikut membantu
kesibukan emaknya di dapur. Mulai dari menyiapkan kayu bakar, goreng-goreng,
membungkus kue yang sudah siap dijual, bersih-bersih rumah dan cuci piring.
Sudin memang anak rajin dan selalu nurut dengan perintah emaknya. Mak Jum
sungguh beruntung punya anak saleh seperti Sudin. Jika tidak dibantu Sudin, Mak
Jum harus bekerja sendirian.
“Cerdas cermat iku opo toh, Nak?”
Tanya Mak Jum yang memang belum ngerti sama sekali tentang cerdas cermat.
“Cerdas
cermat itu kayak adu kecerdasan gitu loh, Mak. Dikasih pertanyaan, terus
disuruh njawab. Kalau jawabannya benar dapat nilai, kalau jawabannya
salah enggak dapat nilai,” papar Sudin dengan fasihnya. Sudin memang tergolong
anak cerdas dan berprestasi di sekolahannya. Ia menjadi bintang kelas selama
lima tahun berturut-turut, Sudin selalu menduduki ranking pertama. Saat ini ia
sedang duduk di bangku kelas 6 SD Negeri Banyu Urip.
“Oooo…..
gitu toh.” Mak Jum mendengarkan penjelasan Sudin sambil manggut-manggut,
mulai paham tentang apa yang dikatakan anaknya itu.
“Terus,
lokasinya itu di mana, Nak?” Tanya Mak Jum. Seolah-olah Mak Jum ingin ikut
menyaksikan perlombaan itu.
“Ya,
di pendopo kecamatan toh, Mak. Itu kan cerdas cermat tingkat Sekolah
Dasar se-Kecamatan Gedang Songo,” jawab Sudin.
“Owalaaah…..”
Rupanya Mak Jum baru mulai mengerti tentang acara di pendopo hari esok itu.
“Berarti,
Bu Camat pesan kue kemarin itu untuk acara cerdas cermat ini toh. Saya
kira ada pertemuan rapat seluruh kepala desa kayak yang dulu itu,” ucap Mak Jum
sambil membungkus lemper yang sudah siap dijual esok.
“Terus,
kalau menang dapat hadiah enggak, Nak?” Emaknya yang masih benar-benar
penasaran itu berharap anaknya nanti bisa meraih juara dan mendapatkan hadiah.
“Ya,
pasti dapat toh, Mak. La wong yang mengadakan lomba itu kan Allianz,
Perusahaan Asuransi Syariah.”
“Asuransi
Syariah?” sahut Mak Jum dengan nada polosnya. Mak Jum tetap saja belum ngerti
dan makin bengong dengan istilah yang baru saja ia dengar dalam
sepanjang hidupnya.
“Asuransi
Syariah itu usaha saling tolong menolong dan melindungi diantara para peserta
melalui pembentukan kumpulan dana yang dikelola sesuai prinsip syariah untu
menghadapi risiko tertentu,” terang Sudin, seolah-olah sedang menggurui emaknya
itu. Mak Jum malah semakin bingung. Menggeleng-gelengkan kepala,
keheran-heranan dan seakan-akan enggak mau tahu. Bersikap acuh tak acuh.
“Nah,
sekarang Asuransi Syariah itu sedang mengadakan program baru, Mak. Yaitu,
melindungi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Dan, emak juga bisa mendapatkan
kesempatan jaminan itu,” imbuh Sudin sambil mengelus-elus pundak emaknya yang
tengah mengaduk adonan kue lapis. Sudin berusaha membahagiakan emaknya dan ikut
membesarkan hatinya.
“Ah,
ya, enggak mungkin. La wong emak itu kan cuma pedagang kecil di pasar
tradisional toh, Le.” Rupanya Mak Jum masih belum mempercayai sepenuhnya.
Dan, bersikap cuek. Yang penting bagi Mak Jum anaknya meraih juara dan mendapat
hadiah berupa uang. “Lumayan, bisa buat mbayar hutang Bos Bambang itu,”
gumam Mak Jum dalam hati.
“Terus,
kalau dapat juara hadiahnya apa, Le?” Tanya Mak Jum sambil berharap
penuh.
“Sudin
juga belum tahu, Mak.”
“Yo
wes, tak dungakne, Le. Mugo-mugo iso juara tur entuk hadiah[4],”
sambung Mak Jum sambil mengusap-usap kepala Sudin, sebagi tanda rasa cinta dan
kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
“Amin,”
sahut Sudin sambil mencium tangan emaknya, minta doa restu.
***
Setiap
hari, Mak Jum jualan kue di pasar. Meski kebanyakan penduduk di sini bekerja di
sawah. Ya, pasar itu berjarak sekitar 25 kilometer dari rumahnya. Ia berangkat
pagi-pagi usai salat subuh. Pergi sendirian, tidak ada yang menemani dan
membantuinya. Sepertinya terlihat agak keberatan menggendong keranjang kue.
Kali ini kue yang harus dibawa ke pasar jumlahnya banyak. Termasuk pesanan Bu
Camat.
Sekitar
lima kilometer, jarak perjalanan dari rumahnya ke gapura Desa Banyu Urip.
Itupun tampak gelap dan harus melintasi sawah sepanjang jalan. Apalagi sawah di
kampung ini masih banyak ular berbisa dan jalannya juga berlumpur. Mak Jum pun tidak
punya rasa takut dan pantang menyerah. Karena tekad besarnya untuk mengais
rezeki demi biaya sekolah anaknya memang luar biasa. Apalagi hutang atas biaya
perawatan mendiang suaminya saat di rumah sakit itu juga belum dibayar.
Tak terasa perjalanannya pun
telah mencapai 3 kilometer.
Tiba-tiba,
“Debug…” Kang Bagiyo yang tengah mengairi sawahnya di pagi buta ini spontan
tersentak. Kaget, mendengar sesuatu yang mengejutkan. Aneh, seperti bunyi kelapa
yang jatuh dari pohonnya. Padahal di antara pematang sawah itu tidak ada pohon
kelapa sama sekali. Ia langsung menghampiri sumber suara tadi.
“Mak
jum… Mak… Mak…” teriak Kang Bagiyo. Ia bingung harus berbuat apa. Tidak ada
satu orang pun di tengah sawah itu. Hanya Kang Bagiyo. Namun Kang Bagiyo tetap
berusaha menolongnya.
Masya Allah.
“Ono
opo, Kang?” Tanya Pak Mardi keharan-heranan. Untung ada Pak Mardi yang baru
lewat. Tapi Pak Mardi masih belum tahu kejadian itu.
“Astaghfirullah.” Ternyata Mak Jum. Mak Jum jatuh.
Terpeleset di tengah jalan. Pingsan.
Kue dagangannya yang biasa dimasukkan
ke dalam keranjang bambu itu menjadi berserakan semua. Nyaris tidak ada satu
pun yang tidak bercampur lumpur sawah, padahal itu termasuk kue pesanan Bu
Camat. Hari ini mau diambil. Dan, pembayarannya pun juga sudah lunas. Sementara
Bu Camat itu pelanggan tetap Mak Jum. Bagaimana nanti kalau ia marah-marah,
padahal dipakai acara lomba cerdas cermat tingkat SD se-Kecamatan Gedang Songo.
***
Sementara itu, di Pendopo
Kecamatan Gedang Songo tampak ramai sekali. Lomba cerdas cermat tingkat SD
sudah dimulai sekitar satu jam sedari tadi. Dan, sekarang hampir selesai. Sebentar
lagi Pak Camat pun akan mengumumkan pemenang lomba cerdas cermat ini.
“Kami
akan mengumumkan pemenang lomba cerdas cermat tingkat Sekolah Dasar
se-Kecamatan Gedang Songo.” Suara Pak Camat terdengar lantang menggema di
ruangan balai pendopo ini. Semua orang yang turut hadir di acara ini, hatinya mulai
deg-degan. Penasaran siapa yang akan menjadi juara, memenangkan
perlombaan itu. Termasuk Kepala Sekolah dan seluruh guru-guru SD se-Kecamatan Gedang
Songo yang turut menyaksikan dan menyemangati siswa-siswanya di perhelatan ini.
“Sesuai dengan keputusan dewan
juri, juara tiga diraih oleh SD Negeri Karang Nongko.” Begitu Pak Camat
mengumumkan pemenangnya, langsung di sambut riuh tepuk tangan hadirin. Termasuk
Bu Endang, istrinya Pak Camat yang duduk di tengah-tengah antara Bu Lurah
Karang Nongko dan Bu Lurah Banyu Urip.
“Juara dua diraih oleh SD Negeri
Pring Sewu.” Tepuk tangan kali ini lebih meriah lagi dibanding tepuk tangan yang
pertama. Termasuk Kang Pardi. Karena anaknya itu menjadi salah satu peserta
lomba yang mewakili SD Negeri Pring Sewu ini. Sementara Bu Camat tampak tersenyum
bangga melihat prestasi bocah-bocah itu.
Kemudian.
“Juara
satu diraih oleh.” Pak Camat diam sejenak. Tampaknya seluruh hadirin sudah
tidak sabar menunggu pengumuman juara satu ini. Mereka saling memandangi wajah
antara satu dengan yang lainnya. Penasaran dan ingin bertanya-tanya. Sudin dan
teman-temannya pun demikian. Pasalnya juara satu akan mendapatkan uang beasiswa
sebesar 5 juta dari Allianz, Perusahaan Asuransi Syariah.
“SD Negeri.” Rupanya Pak Camat
masih ingin membuat rasa penasaran sambil memandangi wajah-wajah peserta lomba
dan seluruh orang yang ikut memadati ruangan pendopo ini. Pak Camat tersenyum kecil,
membacanya pun perlahan-lahan seperti mengeja.
“Banyu Urip. Dengan juru bicara
Syamsudin.”
Spontan
saja Sudin serta teman-teman sekelompoknya langsung saling berpelukan. Termasuk
Bu Camat dan Bu Lurah Banyu Urip. Gemuruh sorak sorai tepuk tangan menggelegar,
seakan memecahkan ruangan pendopo ini.
“Bu, Syamsudin itu anaknya Mak
Jum yang penjual kue di Pasar Gedang Songo lo!” bisik Bu Lurah kepada Bu
Camat. Begitu mendengar nama Mak Jum disebut, spontan Bu Camat langsung
teringat dengan kue yang dipesan kemarin lusa itu. Bu Camat sepertinya tidak
memperhatikan Syamsudin. Hanya teringat kue.
“Astaghfirullah, Kemarin
itu saya kan pesen kue ke Mak Jum, tapi sampai sekarang kok belum diantar,
ya! Apa kira-kira orangnya itu lupa, padahal acaranya ini kan sudah selesai. Waduh,
gimana ini.” Bu Camat semakin panik.
***
Sebentar
lagi waktu subuh pun hampir tiba. Mak Jum dan Sudin mulai siap-siap berangkat
jamaah. Jarak surau dengan rumahnya tak jauh amat. Hanya 15 meter. Letaknya
samping kanan rumah Mbah Kurdi persis. Beliaulah yang menjadi kiai dan sesepuh
masyarakat di kampung ini. Di tengah-tengah antara rumah Mbah Kurdi dan rumah
Mak Jum terdapat pekarangan cabe rawit milik Mbah Kurdi. Kira-kira seluas lima
meter.
Pagi
itu suara azan terdengar sayup-sayup dari bilik pengimaman langgar kecil ini. Ya,
itu suara Sudin kala mengumandangkan seruan sembahyang. Sebelum iqomah dan usai
azan subuh, para jamaah pun tampak meluangkan waktunya untuk salat sunah
rawatib. Sudin pun demikian. Cukup dua rakaat. Kata Mbah Kurdi, keutamaan salat
sunah sebelum subuh itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.. Begitu petuah
Mbah Kurdi sembari mengutip hadis Nabi saat memberikan ceramah di musala itu.
Di
gubuk reyot berdinding bambu ini, Sudin dilahirkan. Ia tinggal satu atap
bersama emaknya yang masih berumur separuh baya. Rumah Sudin memang terlihat
seperti gubuk. Terletak di pinggiran sungai dan di antara bentangan sawah. Di
halaman depan rumahnya, tampak pepohonan rindang yang sudah termakan usia.
Sebuah bangunan kecil yang berada di tepi kampung. Ya, kampung yang amat
terpencil. Terasa kian jauh dari gaya hidup ala modernis. Bahkan, listrik pun
belum pernah mengenal akrab.
Sebelum
fajar menyongsong pagi, Mak Jum dan Sudin sudah terbangun dari tidurnya. Meski
ia tidak tahu pukul berapa sekarang. Karena tidak ada jam dinding di rumah itu.
Apalagi jam digital dan arloji. Hanya suara ayam berkokok di belakang rumah
yang selalu setia membangunkannya. Seolah-olah ingin mengingatkan Mak Jum dan
Sudin, bahwa saat ini adalah tiba waktu tahajud.
Mak
Jum lekas menuju ke kamar mandi, mengambil air wudu untuk salat malam. Semenjak
masa remaja, Mak Jum memang sudah akrab dengan rutinitas seperti ini. Sudin pun
juga dilatih demikian sejak dini. Sebagai wanita salihah, Mak Jum mesti rajin
beribadah dan berpegang teguh pada syariah. Mukena yang terlihat menggantung di
balik pintu kamar, lantas diambil dan dikenakannya.
Subhanallah.
Perlengkapan
salat Mak Jum yang dulu sebagai mahar di hari pernikahannya itu, kini masih
tampak utuh dan terawat baik. Meski warna putihnya sudah berubah menjadi agak kelabu.
Tampaknya rasa cinta dan kasih sayang seorang istri pada sang suami kian
tertimbun dalam-dalam di sanubarinya. Meski sudah tiada, selalu ia kenang
sepanjang hidupnya.
Ya Allah, Yang Maha Pemurah. Hamba bersujud dan bertekuk
lutut di hadapan-Mu. Hamba memohon, bukakanlah pintu magfirah-Mu untuk
menghapus segala khilaf dan dosa yang pernah hamba perbuat. Kuatkan iman dan
rasa takwaku kepada-Mu, Ya Rabi. Mudahkanlah semua urusan duniawiku.
Karuniailah hamba kehalalan rezeki-Mu yang melimpah ruah.
Saat
itu, lantang suara katak dan jangkrik yang sahut menyahut di antara pematang
sawah turut mengamini doa Mak Jum yang menyenandung isak tangis. Malam ini
terasa syahdu. Gelapnya kamar Mak Jum menjadikannya lebih asyik masyuk dalam
mendekatkan diri pada Sang Khalik. Meski hanya tersinari oleh cahaya lilin
kecil yang menyala remang-remang di sudut kamar, namun hati Mak Jum yang selalu
berbinar dan bersinar terang sudah cukup menggantikan gulitanya malam.
Ya Allah, ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orangtua kami.
Anugerahilah kami anak cucu yang saleh, berilmu dan selalu berbakti terhadap ke
dua orangtuanya.
Sambil
menengadahkan kedua telapak tangan ke atas, Mak Jum tampak khusyuk dan khidmat
bermunajat. Kedua belah pipinya nyaris tak pernah kering dari tetesan air mata.
Menggapai harapan besar puteranya, Sudin menjadi anak saleh.
***
“Mbok,
akhir-akhir ini, Juminten, tetangga sampean itu kok enggak pernah kelihatan
batang hidungnya, dia pasti keluyuran ke Gunung Bromo lagi kan?” celetuk Mak
Kom kepada Mbok Suminah saat makan pagi di warungnya itu.
“Gunung
Bromo piye toh?” Mbok Suminah membantah.
“Juminten
itu sekarang sudah jadi orang kaya,” sambung Mbok Suminah.
“Jangan-jangan,
sekarang dia sudah jadi istrinya Bos Bambang,” sahut Lik Sarmun sambil
menikmati isapan cerutu dan menyeruput kopi hangatnya di pagi ini.
“Dan
anaknya, si Sudin itu sekarang melanjutkan sekolah di SMP Surabaya,” timpal
Kang Pardi. “Anaknya itu kan dapat beasiswa, juara lomba cerdas cermat di
pendopo kecamatan kemarin itu,” lanjut Kang Pardi yang tengah duduk di samping
Lik Sarmun.
“Mungkin,
Mak Jum itu sekarang jadi pembantunya Bu Haji Faisal di Surabaya. Bu Haji
Faisal itu kan punya toko busana di sana,” ungkap Yu Ngaisah yang sedari tadi
sudah kepingin ikut rasan-rasan di warung ini. Sementara Mbok Suminah yang
duduk di sebelahnya tetap saja menikmati sarapan nasi pecel dan tidak menghiraukan
omongan orang-orang itu.
Kabar
tentang kepergian Mak Jum menjadi misterius. Banyak orang mempertanyakan
keberadaan Mak Jum yang menghilang begitu saja. Sudah berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan, hampir dua bulan ini memang tidak pernah jualan di
Pasar Gedang Songo. Kabar angin yang mendesus dari mulut ke mulut makin
semrawut. Selayaknya artis yang lagi naik daun. Tidak ada yang jelas dan tidak
ada yang bisa dipastikan kebenarannya.
“Sudah-sudah,
intinya pertapaan Juminten di Gunung Bromo itu sekarang sudah berhasil. Titik.”
Rupanya Mak Kom ingin mencoba mengakhiri pergunjingan tentang Mak Jum ini, sambil
memantul-mantulkan genggaman tangan kanan dan jari telunjuknya ke arah bawah.
Seperti gerakan tangan orang yang lagi ketuk-ketuk palu ke atas meja.
Tiba-tiba.
“Pak,
Bu! Mak Jum itu sekarang sedang membuka toko kue di Surabaya,” tegas Bu Camat kepada
orang-orang yang ada di warung ini sambil berdiri di tengah-tengah pintu.
Spontan mereka terkejut, pada ndlongop ketika melihat Bu Camat masuk
warung dengan tiba-tiba. Apalagi langsung ikut nimbrung tentang Mak Jum.
Ternyata Bu Camat sudah sedari tadi ikut nguping perbincangan mereka
dari luar warung.
“Silahkan,
Bu Camat! Pinarak, badhe pesen nopo?” Mak Kom mempersilahkan duduk dan
menawarkan hidangan menu-menu makanan juga minuman yang dijual di warungnya itu.
Tampaknya baru kali ini Bu Camat masuk ke warungnya Mak Kom. Mak Kom yang
biasanya sering menggerutu sekarang berubah menjadi sumringah, karena
didatangi oleh Bu Camat.
“Mak
Jum itu kan dapat bantuan dana dari Allianz, Perusahaan Asuransi
Syariah,” lanjut Bu Camat setelah mengambil tempat duduk di tengah-tengah antara
Mbok Suminah dan Yu Ngaisah. Sementara Mak Kom tengah mengaduk teh manis
pesanan Bu Camat.
“Ooo…..”
Lik Sarmun, Kang Pardi, Mak Kom, Mbok Suminah dan Yu Ngaisah serempak menganga
bersama-sama tanpa ada komando. Sambil mengangguk-anggukkan kepala, mereka
saling menatapi wajah antara satu dengan lainnya. Bu Camat hanya
tersenyum-senyum melihat tingkah laku orang-orang itu. Rupanya mereka sudah
mulai memahami keberadaan Mak Jum yang sebenarnya.
“Mak
Jum ketiban berkah dari langit,” batin mereka.